Saat Keluarga Nabi Makan Gandum Basi di Hari Raya Idul Fitri

  • Whatsapp

oleh: Ustaz Arrofik Showi, S. Ag

TAKBIR, tasbih, tahmid dan tahlil, berkumandang di seantero dunia dan melangit menyambut Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah. Kita semua patut bersyukur kepada Allah SWT bahwa bulan suci Ramadhan dilalui dengan baik, meskipun suasananya berbeda dengan puasa pada tahun-tahun sebelumnya.

Read More

Adanya wabah corona Covid-19 telah merubah banyak kebiasaan umat Islam dalam menjalankan ibadah di bulan puasa. Ibadah yang biasanya dilakukan berjamaah seperti salat wajib dan tarawih, itikaf di masjid, pengajian, dan lainnya, kini tidak bisa dilakukan.

Begitu juga perayaan hari raya tahun ini yang diminta tidak dengan menggelar takbiran keliling di malamnya dan salat Id berjamaah di paginya. Aturan tersebut dilakukan untuk mencegah penyebaran virus yang berasal dari Wuhan China tersebut.

Namun bukan berarti makna dan nilai Idul Fitri kita lalui dengan begitu saja. Idul Fitri bisa dimaknai sebagai kembalinya manusia ke jati dirinya yang paling orisinal. Jadi, Hari Raya Idul Fitri adalah sebuah perayaan kemenangan setelah menjalani Ramadhan, untuk kembali ke fitrah, setelah berhasill menundukkan nafsu. Sebab manusia hakekatnya terlahir tanpa beban kesalahan apa pun dan suci tanpa noda dan dosa.

Pada sisi lain, Idul Fitri adalah momentum untuk berbagi kebaikan dan kebahagiaan kepada pihak lain. Berbagi kebaikan dan kebahagiaan bisa dengan mengeluarkan zakat, infaq dan sadaqah. Zakat fitrah dikeluarkan menjelang Idul Fitri dan langsung dibagikan kepada mereka yang berhak menerima. Sementara zakat harta, infaq dan sadaqah, tidak harus dibagi menjelang salat Idul Fitri, tetapi bisa dikelola untuk meningkatkan kesejahateraan umat Islam di bidang ekonomi, pendidikan, sosial dan sebagainya.

Selain itu, Idul Fitri juga momentum berbagi kebaikan dan kebahagiaan dengan silaturrahim untuk saling memberi maaf dan mendapatkan maafnya juga. Silaturrahim ini bentuknya bisa berkunjung ke tetangga, ke rumah orang tua, keluarga yang dituakan, dan sebagainya.

Dalam memaknai Idul Fitri dalam konteks berbagi ini, ada kisah teladan dari putri Rasulullah SAW, seperti dalam Musnad Imam Ahmad, jilid 2, halaman 232. Rasulullah SAW sampai menangis melihat apa yang dilakukan putrinya itu di Hari Raya Idul Fitri, begini kisahnya.

Pada saat malam takbiran, Sayyidina Ali ibn Abi Thalib terlihat sibuk membagi-bagikan gandum dan kurma kepada kaum fakir miskin. Beliau menyiapkan tiga karung gandum dan dua karung kurma untuk dibagikan kepada orang yang berhak menerimanya.

Tidak sendirian, Sayidina Ali ditemani istrinya, Sayyidah Fathimah az-Zahra. Sayyidina Ali sendiri yang memanggul gandum itu untuk dibagikan. Sementara Sayyidah Fatimah menuntun dua putranya, Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein.

Malam itu mereka sekeluarga mendatangi kaum fakir miskin dengan berkeliling. Esok harinya, bersama kaum muslim lainnya, mereka melaksanakan salat Idul Fitri berjamaah dan mendengarkan khutbah. Setelah selesai, keluarga Rasulullah SAW itu pulang ke rumah dengan wajah berseri-seri.

Singkat cerita, seorang sahabat Nabi bernama Ibnu Rafi’i mendatangi keluarga Sayidina Ali bermaksud untuk mengucapkan selamat Idul Fitri. Tapi sebelum bertemu, Ibnu Rafi’i tercengang saat baru sampai di depan pintu rumah.

Musababnya, Ibnu Rafi’i terkejut melihat apa yang dimakan oleh keluarga Rasulullah SAW itu. Di hari Idul Fitri, Sayyidina Ali, Sayyidah Fatimah, Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein yang masih balita, hanya memakan gandum tanpa mentega. Bikin sedih lagi, gandum yang dimakan basi, baunya tercium oleh sahabat Nabi itu.

Seketika Ibnu Rafi’i mengucapkan Istighfar, sambil mengusap-usap dadanya seolah ada yang nyeri di sana. Mata Ibnu Rafi’i tak tahan membendung air mata.

Kecamuk dalam dada Ibnu Rafi’i sangat kuat. Dengan setengah lari, ia bergegas menghadap Rasulullah SAW.

“Ya Rasulullah, ya Rasulullah, ya Rasulullah, putri baginda dan cucu baginda,” kata Ibnu Rafi’i sesampainya di depan Rasulullah.

“Ada apa wahai sahabatku?” tanya Rasulullah.

“Tengoklah ke rumah putri baginda, ya Rasulullah. Tengoklah cucu baginda Hasan dan Husein.”

“Kenapa keluargaku?”

“Tengoklah sendiri oleh baginda, saya tidak kuasa mengatakan semuanya.”

Rasulullah SAW pun bergegas menuju rumah Sayyidah Fatimah. Tiba di teras rumah, terdengar tawa bahagia mengisi percakapan antara Sayyidina Ali, Sayyidah Fatimah dan kedua putranya.

Namun, di luar rumah mata Rasulullah berlinang air mata. Beliau menangis melihat keluarga putri tercinta dan dua cucunya yang hanya makan gandum basi di hari Raya Idul Fitri.

Di saat semua orang berbahagia, di saat semua orang makan yang enak-enak, keluarga Rasulullah SAW penuh tawa bahagia dengan hanya makan gandum yang baunya tercium tak sedap.

“Ya Allah, Allahumma Isyhad…
Ya Allah, Allahumma Isyhad…
(Ya Allah saksikanlah, saksikanlah)
Di hari Idul Fitri keluargaku makanannya adalah gandum yang basi.

Mereka membela kaum papa, ya Allah. Mereka mencintai kaum fuqara dan masakin.

Mereka relakan lidah dan perutnya mengecap makanan basi, asalkan kaum fakir-miskin bisa memakan makanan yang lezat.

Allahumma Isyhad, saksikanlah ya Allah, saksikanlah.”

Bibir Rasulullah berbisik lembut. Sayyidah Fathimah tersadar kalau di luar pintu rumah, sang ayah sedang berdiri tegak.

“Duhai ayahnda, ada apa gerangan ayah menangis?”

Rasulullah tak tahan mendengar pertanyaan itu. Dengan setengah berlari Rasulullah memeluk putri kesayangannya sambil mengatakan: “Surga untukmu Nak. Surga untukmu.”

Wallahu a’lam…

*) Penulis adalah pembimbing PP Darussalam Bantarwaru Majalengka. Saat ini tinggal di Bambu Apus, Pamulang dan aktif mengajar serta memberi bimbingan keagamaan.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *