Manusia dan Pencintanya

  • Whatsapp
Ilustrasi. Foto Pixabay

oleh: Budiana

01 Januari 2006 Pukul 10.16.45

Read More

Sebuah mobil carry melaju dengan kecepatan 80 km/jam dari arah kota. Dengan mesin dan cat yang masih berkilat melintasi jalan-jalan yang tidak terlalu ramai. Cuaca baru bangkit cerah setelah beberapa lama dinaungi mendung dan hujan. Sinar matahari membidik genangan air di setiap sudut. Pohon-pohon, jalan-jalan masih terlihat mengkilat terkena air. Jalan raya yang membawa mobil carry melaju di atasnya terasa sangat licin. Perlu hati-hati untuk mengendarainya. Kaca mobil sesekali terlihat buram karena tertutup embun yang menempel. Butiran-butiran embun masih membawa rasa dingin membuat sang sopir diharuskan merokok. Tidak ada orang lain dalam mobil itu hanya sopir seorang.

Sebuah becak melaju pelan di depannya dengan muatan. Bukan manusia tapi sayur-sayuran yang hendak dibawa ke pasar. Penarik becak yang kuat. Otot-otot kakinya terlihat sangat jelas. Dia megayuh dengan segenap tenaga. Becak berada 200 meter satu arah dari mobil carry yang mengkilat bagus. Tiba-tiba becak itu berbelok ke kanan dengan cepat tanpa aba-aba.

Mobil pun terus melaju. Sekilas terlihat becak membelok. Diinjaknya rem kuat-kuat. Terdengar benturan kuat di depan. Sekilas terlihat becak. Karena licin mobil pun terus bergerak. Bahkan berubah haluan 45 derajat ke arah kiri. Tanpa sadar sopir pun marah tak karuan. Semua ucapannya adalah kata-kata sumpah-serapah. Marah, tegang, kacau, ruwet berbaur dalam dada sopir. Beberapa detik terdiam. Mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Sopir keluar dari mobil. Mencari nasib becak dan penarik becak. Bagian becak sebelah kanan ringsek. Sayur-sayuran luluh-lantah. Nasib penarik becak terebah tak berdaya. Kepala penuh guratan merah keringat darah. Hidung, telinga, mulut meneteskan tetesan darah. Tepat di tengah jalan, penarik becak menghembuskan napas terakhirnya.

Sang sopir berbadan gemuk, berkulit putih, dan tidak terlalu tinggi panik melihat kejadian tersebut. Dilihat tidak ada orang di sekelilingnya. Mukanya menyimpan rasa kesal, takut, kasihan, dan amarah. Sorot matanya coba terbelalak namun terhalangi bentuk matanya yang sipit. Matanya menatap ke arah mobil. Bagian depan penyokterkelupas cat mobilnya. Badan gemuk dibalut kaos oblong dan celana pendek mulai panik yang sangat hebat. Sopir masuk kembali ke dalam mobil. Sekeras mungkin ia menyalakan mesin mobil –dengan tangan dan jemari gemetaran– melaju meninggalkan penarik becak. Tidak kenal licin, tidak kenal kaca buram melaju dengan kecepatan 100 km/jam. Di jarak 500 meter kemudian terdengar lagi benturan kuat di depan mobil carry. Sebuah gerobak bakso dorong hacur luluh-lantah di pinggir jalan. Mobil carry pun kembali ngepot. Hampir 70 derajat di badan jalan. Sumpah serapah penjual bakso di balas sumpah serapah sopir carry. Warga sekitar langsung berhamburan keluar. Penjual bakso menuntut sopir carry untuk mengganti. Sang sopir melawan dengan bualan yang tidak kalah hebatnya. Polisi dan pasal-pasal dilontarkan. Karena kesal penjual bakso memukul sopir. Pertarungan seimbang terjadi dalam empat detik, lima detik dan seterusnya pertarungan tidak seimbang. Sopir melawan puluhan warga yang melihat. Bukan hanya pukulan tangan tapi kayu, batu, dan besi ikut mampir ke tubuh gemuk sopir. Satu menit lebih berlalu. Tubuh sopir terkapar seperti binatang. Penuh darah dan lebab, namun tidak ada yang mau menyentuh hanya di keliling menjadi tontonan. Kepalanya hampir pecah berlumuran darah kental merah tua. Sopir terkapar tak berdaya menghembuskan napas terakhir.

01 Januari 2006Pukul 10.16.45

Seorang anak kecil berbaju kaos, celana pendek tengah asyik bermain kelereng bersama lima orang temannya. Kelerengpun ia ambil dan ia sentil sampai mengenai kelereng temannya. Kelerengpun beradu dan saling menjauh. Si kecil itu pun mulai membidik kelereng yang dianggapnya dekat. Belum sampai ia melepaskan sentilannya, ia berubah pkiran karena merasa tidak akan kena. Kelereng kini ia bidik ke lubang yang berada dua jengkal telapak tangan dari kelerengnya. Dibidiknya dan masuk. Kelereng ia ambil kembali untuk disentil. Tidak jauh dan tidak ia bidikan ke kelereng temannya. Hanya lima senti dari lubang kelereng ia posisikan. Seorang temannya mulai membidik kelereng si bocak kecil. Ia mulai menjeplak kelerengnya. Anak kecil tadi memiliki keyakinan kuat kelerengnya tidak mungkin kena. Kelerengpun melesat dan beradu dengan kelereng si anak kecil. Anak kecil diam dan terbelalak, “Mati kamu Man. Kena kamu. Minggir kamu sudah mati Man.” Teriak seorang teman.

Hangat, tegang, gembira, bersahabat, rasa yang mereka miliki. Meski hanya bermain di tanah lapang yang tidak terlalu lebar dan sedikit becek. Tanah lapang yang di kanan-kiri, depan-belakang rumah bata dan tembok geribig yang sederhana. Bukan keramik tapi gundukkan tanah di setiap lantai rumah. Terasa keteduhan karena masih ada pepohonan.

01 Januari 2006 Pukul 10.16.45

Seorang anak kecil berambut agak berdiri, badan agak gemuk, muka agak bulat asyik berteriak-teriak dengan seorang temannya. Tegang, kadang gembira, kesal, jeritan histeris, caci-maki menghinggapi ruangan cukup lebar tapi tidak terlalu lebar. Ruanagan yang merupakan bagian dari rumah yang berbentuk persegi panjang. Dari depan kita akan melihat sebuah kios yang di kanan-kiri terhapit oleh kios-kios yang lain. Kios ini persis garasi mobil. Bila berjalan lurus ke dalam kios. Terdapat ruangan yang berisi meja, kursi, pas bunga, poto-poto, almari dengan perabotan yang sangat menarik. Harga perabotan mungkin agak sedikit mahal. Ruang cukup lebar tapi tidak terlalu lebar. Menelusur lagi ke belakang terdapat sekatan-sekatan ruang tidur yang menghadap ke samping. Ada jalan kecil yang dapat kita lewati. Sambil lewat dapat dihitung tiga pintu. Berarti ada tiga kamar: dua kamar tidur dan satu kamar mandi. Menelusur ke belakang sebuah ruanagan tanpa pintu yaitu dapur dan meja makan. Menelusur lagi sebuah pintu belakang yang disambung garasi mobil.

Berada dihiruk pikuk tengah-tengah kota. Desingan suara kendaraan, laju kesibukan orang-orang, sering hinggap dipelataran kios. Kios plus rumah persis gerbong kereta api. Di depan kios jalan raya dan di depan garasi jalan raya. Bising, polusi, panas, kering seakan menjadi mata rantai kehidupan. Tapi kebisingan anak kecil dan temannya tidak kalah dengan kebisingan di luar sana.

Dua orang bocah tengah khusuk dan konsentrasi tinggi memandangi televisi. Sebuah benda yang dihubungkan kabel berada di bawah televisi. Dua kabel terjulur dari depan benda itu. Kedua bocah itupun memegang kabel yang dilengkapi benggolan mirip remote control. Masing-masing mereka asyik mengotak-atik tampilan gambar animasi di layar televisi yang sedang memainkan kejuaraan bola sepak.

01 Januari 2006 Pukul 10.32.02

Sebuah rumah yang sederhana dengan balai bambu di depannya. Rumah yang mungil namun mengesankan ketidakmampuan pemiliknya. Ada kursi dan meja di ruang tamu, namun tidak ada televisi dan barang elektronik lainnya selain radio. Alunan lagu yang dihembuskan radio kini berubah dengan datangnya siaran berita. Sang kakek dan nenek berada di atas balai bambu di depan rumah.

Pagi itu hening menyelimuti mereka. Anak-anak sudah hampir berkeluarga semua, hanya satu yang tertinggal. Anak terakhir yang belum juga menikah. Ia sengaja tidak meinggalkan kedua orangtuanya. Kakak-kakaknya yang lain sudah berpencar meniti kehidupan sendiri. Meski bersama orangtua ia tetap mencari makan sendiri. Malah kedua orangtuanya menjadi tanggungannya. Kakak-kakaknya pun kadang mengiriminya uang namun itu tidak sesering yang diharapkan. Pemuda bungsu sadar bahwa kakak-kakaknya sudah berkeluarga tentu banyak tanggungan yang mesti mereka perhatikan.

Itulah kakek dan nenek yang tetap bertahan hidup dalam usianya. Cinta dan sayang yang tak pernah pudar. Kolot dan tetap menjunjung tinggi falsapah tradisional –tidak mau merepotkan orang lain -. Falsapahnya teguh meski dibujuk anak pertamanya untuk ikut tinggal bersama. Kakek-nenek tetap tidak mau. Ketidakmauannya membawa mereka untuk meniti kehidupan dalam lingkungan yang telah menuntun usianya.

Seorang lelaki datang berbadan kurus, baju kaos oblong, dan celana levis belel. Raut mukanya membersitkan kesengsaraan. Nenek diam kakek diam. Lelaki memberi salam. Nenek-kakek menjawab salam. Lelaki berdiri-mendekat. Kakek-nenek diam. Lelaki itupun bicara, “Bardi dibawa polisi, Bardi mukul orang. Dianggap pemicu pembunuhan.” Nenek –kakek diam. Hanya alunan musik mulai muncul lagi setelah warta selesai.

01 Januari 2006 Pukul 10.32.02

Awan mulai membuka celah mentari tuk menarik butiran –butiran hujan yang sudah terlanjur turun. Mentari mencolok tiap-tiap bagian tanah. Gundukkan tanah tidak hanya di luar tapi juga di dalam rumah. Rumah kuno peninggalan nenek moyang yang selalu mewariskan kemiskinan. Tidak ada beton ataupun tembok yang berisi semen. Hanya bata merah yang menjadi pondasi berdirinya anyaman bamboo-geribig. Lantai tanah yang mulai terasa licin dan lengket karena bercampur air hujan. Seorang ibu dengan menggendong bayi mencoba menidurkan buah hatinya. Tiada suara hanya tetesan embun jatuh mengenai dedaunan. Segar, cerah suasana yang dibawa alam. Badan sang ibu digoyang-goyangkan, mondar-mandir. Sampai sang bayi tidak lagi bergerak. Seorang lelaki datang dengan setengah berlari. Langsung menyerbu masuk ke dalam menghadap sang ibu yang menggendong bayi. Selang beberapa lama kemudian sang ibu tersungkur tertahan tembok anyaman bambu. Wajah lusuh, jengkel, dan haru mencoba untuk tidak mempercayainya. Sang bayi pun serta-merta menangis menjadi-jadi. Sang ibu berdiri dan berlari keluar rumah mecari anaknya yang masih bocah, “Maman …!” Sang ibu terus berlari dan berlari. Sang bayi terus menangis. Lelaki penyampai berita pun lari di belakangnya. Terus mengikuti. Otot kakinya yang kecil terus dikayuhnya berlari. Otot kaki yang tentu berbeda dengan otot kaki suami sang ibu yang terus berlari.

Mentari terus bersinar. Alam meniupkan kesegaran dan awan mulai menerbitkan sorak sorai senyum kehangatan.

01 Januari 2006 Pukul 10.32.02

Seorang ibu duduk di belakang meja. Meja yang menyimpan buku, kalkulator, telepon, pulpen, dan segala macam kuaitansi. Di dalam sebuah kios ibu itu berada. Kios dekat jalan raya dengan suasana bising kendaraan dan orang yang lalu lalang. Seorang ibu berkulit putih dengan rambut mulai memutih dan mata berbentuk sipit.

Di depan kios sebuah mobil truk diparkir. Kuli-kuli memindahkan barang-barang dari truk ke dalam kios. Enam orang kuli mondar-mandir memanggul barang di pundaknya. Satu orang berada di depan kios sedang menghitung jumlah barang yang diangkat oleh tiap-tiap kuli yang melintas di depannya.

Telepon berbunyi. Ibu mengangkatnya, “Hallo…!” Nada yang sedikit ketus namun lembut sama seperti mukanya. Raut wajahnya mulai berubah merah dan pucat. Nada suaranya mulai bergetar. Kedua bibirnya mulai beradu. Rumit jengkel, kesal, haru, benci, dan tidak percaya masuk dalam lubuk hatinya. Menangis menjadi-jadi. Bising kendaraan masih terdengar. Para kuli terdiam dan mendekat. Sumpah -serapah dan tangisan juga teriakan kian memuncak. Kendaraan lalu lalang terus membising. “Ada apa Ci?” tegur kuli. Ibu yang dipanggil Ci terus menangis. Terbayang jelas kepergiaan suaminya di pagi hari menaiki mobil yang mesin dan catnya masih mengkilat. Teriakan demi teriakan mulai menggema sampai sumpah dan caci-maki membuat tegang suasana. Bising kendaraan, orang lalu lalang beradu. Ci terus berteriak histeris. Dari dalam terdengar teriakan girang anak kecil, “Goool ….!”

Setiap orang pasti ada yang mencintai

*) Penulis adalah dosen IAI Bunga Bangsa Cirebon. Pria kelahiran Bantarwaru, Ligung, Majalengka itu kini tinggal di Cirebon.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *