Leluhur Kampung Parakan Buyut Syifa Bernasab ke Sunan Gunung Jati Cirebon

  • Whatsapp
KH Mh Suud Wakhid di Chanel YouTube TH.2tv berhasil mengungkap asal muasal Buyut Syifa melalui penelusuran sejarah dan upaya supranatural.

WartaTangsel.co – Kampung Parakan, Pondok Benda, Pamulang, Kota Tangsel memiliki makam keramat Buyut Syifa yang diperkirakan hidup di abad 18. Di nisan makam tertera tulisan Ki Buyut Syifa bin Pamujian.

KH Mh Suud Wakhid di Chanel YouTube TH.2tv berhasil mengungkap asal muasal Buyut Syifa melalui penelusuran sejarah dan upaya supranatural.

Read More

“Cara pertama saya menyibak misteri asal usul Buyut Syifa tersebut adalah dengan mencari tahu makam Buyut Pamujian yang merupakan ayah dari Buyut Syifa,” kata Abah Suud biasa KH Mh Suud Wakhid dipanggil.

Abah mengungkapkan, jika makam Buyut Pamujian berada di Tangsel, maka teorinya mengungkap asal usul Buyut Syifa menjadi gugur. Namun, dari keterangan turun temurun keluarga Parakan tidak mengetahui makam Buyut Pamujian.

Informasi yang didapat keluarga Parakan hanya menyebutkan bahwa Buyut Syifa berasal dari Cirebon tanpa ada penelusuran yang menguatkan informasi tersebut.

Sementara itu, Abah Suud melihat di kurun waktu abad 18 tersebut di Cirebon ada seorang waliyullah. Sebagain orang Cirebon memanggil waliyullah itu Buyut Muji. Dan masyarakat Cirebon bagian barat memanggilnya Kiai Pamujian.

“Saya melihat Pamujian di dalam nisan ini adalah merujuk kepada Kiai Pamujian alias Buyut Muji, alias Pangeran Abdul Hamid di Cirebon,” tuturnya.

Pencarian tersebut didukung dengan upaya supranatural yang dilakukan oleh Tim dari TH.2. Abah pada suatu malam meminta kepada Allah SWT dengan bermunajat supaya berkenan ditunjukan karomah Buyut Syifa

“Alhamdulillah, kami melihat dengan kasat mata fenomena keramat, tetapi kamera tidak dapat merekam peristiwanya,” kata Abah.

Karomah yang dimaksud adalah adanya cahaya seperti kristal yang keluar dari nisan beliau. Cahaya tersebut memancar ke atas seperti menembus langit.

Keturunan Buyut Syifa warga Parakan Wardin Monik ikut serta menyaksikan bersama Abah Suud. Monik mengaku terharu saat berziarah di makam beliau menyaksikan fenomena langka tersebut.

“Saya melihat cahaya di makam beliau ini muncul dengan warna hijau kebiru-biraun. Wallahi saya melihatnya, beliau adalah wali Allah,” beber Monik.

Sebelumnya juga pernah ada yang cerita warga yang melihat cahaya serupa pada suatu malam. Cahaya warna sama yang memancar hijau kebiruan seperti kristal memancarkan ke langit.

Abah Suud melanjutkan, timnya berusaha membuktikan lagi untuk menguatkan teori itu dengan melakukan penarikan pusaka.

Para kekasih Allah, kata Abah, kerap meinggalkan ilmu dan warisan pusaka. Ada kalanya sudah diwariskan pada zamannya secara turun temurun ke penerusnya.

Namun, ada pula menjadi semacam warisan alam. Pada konteks ini Abah Suud melakukan penarikan pusaka. Ada dua pusaka akhirnya yang bisa ditarik.

“Yang pertama adalah golok. Perhatikan di bagian depan tidak rata, tapi bukan berarti korosi, tapi memang senjata mematikan,” katanya.

Yang menarik pusaka ini ditarik oleh anak Parakan sendiri. Tidak bercirikan Cirebon dari golok ini, namun lebih kepada Betawi-nya.

Tetapi pada pusaka kedua yang berhasil ditarik ada kaitannya dengan Cirebon. Bentuk pusaka ini adalah batang kayu Nagasari. Kalau di makam Syaikh Gunung Jati Cirebon tumbuh banyak pohon Nagasasri.

Lebih lanjut, di beberapa kerabat turunan Syekh Gunung Jati diberi ciri dengan pohon Nagasari. Seperti juga yang ada di maka Buyut Pamujian yang diyakini ayah dari Buyut Syifa Parakan.

Dengan kayu Nagasari ini semakin kuat bahwa Buyut Syifa adalah keturunan Cirebon.

“Usaha kita ini semoga bisa mengangkat marwah keluarga Parakan dan dihormati oleh umat secara kesuluruhan,” kata Imam Jam’iyyah Dzikrul Manaqib As-Syaikh Abdul Qodir Al-jailaniy, itu.

Sementara itu, keluarga turunan Buyut Syifa, Ustaz Yunus Bahrudin mengungkpan terimakasih atas upaya yang dilakukan Abah Suud dan TH.2. Sehingga menjadi diketahui silsilah sesepuh Parakan dengan beberapa metode yang dilakukan.

“Kami berkesimpulan benar beliau dari Cirebon datang ke Parakan sekitar abad 17-18, puncaknya beliau pada trah Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati,” katanya.

“Diharapkan keturunan beliau mengenal asal usulnya, paling tidak bisa mengirim doa untuk beliau yang telah meninggalkan ilmu dan wakaf yang sangat berarti di Parakan ini,” tutupnya. (YA)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *