Klaster Baru di Tangsel dari Pondok Pesantren

  • Whatsapp
Airin Rachmi Diany. Foto ist

WartaTangsel.co — Pemkot Tangsel menemukan klaster baru covid-19, dari pondok pesantren. Kondisi tersebut disebabkan adanya salah seorang di pesantren sepulang dari Jawa Timur terkena Covid-19 dengan status orang tanpa gejala (OTG).

”Kami temukan kluster baru minggu lalu di pondok pesantren. Mereka sudah sembuh. Kami karantina di Rumah Lawan Covid-19. Tidak ada penambahan kasus di pondok pesantren itu, sudah selesai,” ujar Wali Kota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany di Balai Kota Tangsel, Selasa (4/8).

Read More

Airin mengakui, terjadi peningkatan jumlah kasus Covid-19 secara keseluruhan hingga akhir Juli 2020. Lonjakan kasus tertinggi di Tangsel terjadi pada 31 Juli 2020, sebanyak 22 kasus baru bertambah dalam satu hari.

Penambahan kasus Covid-19 di wilayahnya rata-rata disebabkan kasus impor (imported cased). Artinya, ada warga luar atau warga Tangsel yang kembali dari luar daerah dan membawa virus. Akibatnya penularan terus terjadi dan tak bisa terhindarkan.

“Kami juga temukan kemarin ada satu yang positif lalu menularkan kepada keluarganya. Akibatnya penularan dalam keluarga jumlah kasus menjadi dua kali lipat,” ujar Airin.

Tingginya mobilitas warga Tangsel disebabkan tidak ada imbauan khusus untuk menahan pergerakan warga. Selain itu, menurut Airin, mobilitas warga Tangsel masih terjadi karena 50 persen di antaranya setiap hari beraktivitas atau bekerja di Jakarta.

“Apalagi DKI Jakarta sekarang ada kenaikan, 50 persen warga Tangsel bekerja di Jakarta. Itu juga salah satu penyebabnya,” ujarnya.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangsel Deden Deni mengakui sejak Senin kemarin jumlah penambahan kasus positif bertambah. Penambahan kasus positif baru di Tangsel merupakan hasil dari penelusuran kontak (tracking) secara sporadis atau acak.

“Klaster terbaru penyebaran virus Covid-19 di Kota Tangsel terjadi pada lokasi di pondok pesantren,“ ucapnya.

Dia mengimbau, kepada seluruh masyarakat Kota Tangsel untuk tetap mematuhi protokol kesehatan selama vaksin belum ditemukan. Khawatir kedepannya resiko penyebaran semakin besar.

“Karena pada masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi ini ada banyak kelonggaran di titik pusat keramaian serta fasilitas publik,” ujarnya. (ya/rpb)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *