Belajar kepada Abu Nawas Cara Merayu Tuhan

  • Whatsapp

oleh: Ustaz Arrofik Showi, S. Ag

SETIAP hari manusia tidak luput dari dosa. Baik disangaja, apalagi yang tidak disengaja. Baik dosa besar, atau yang kecil-kecil, yang padahal itu akan bertumpuk menjadi dosa besar.

Read More

Namun, percayalah Allah akan mengampuni  taubat hambanya yang bersungguh-sungguh. Terkait dosa dan pengampunan Allah, ada kisah yang bisa jadi bahan renungan. Dalam kumpulan cerita Kisah 1001 Malam Abu Nawas Sang Penggeli Hati.

Alkisah, ada tiga orang tamu yang bertanya kepada Abu Nawas. Mereka mengajukan pertanyaan yang sama.

“Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?” tanya orang pertama itu kepada Abu Nawas.

“Orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil,” jawab Abu Nawas. “Mengapa?” kejar orang yang bertanya pertama.

“Sebab lebih mudah diampuni oleh Tuhan,” kata Abu Nawas.

Lalu orang kedua bertanya. “Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?”

Jawab Abu Nawas. “Orang yang tidak mengerjakan keduanya.” “Mengapa?” kata orang kedua.

“Dengan tidak mengerjakan keduanya, tentu tidak memerlukan pengampunan dari Tuhan,” terang Abu Nawas.

Giliran orang ketiga mengajukan pertanyaan. “Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?”

“Orang yang mengerjakan dosa-dosa besar,” jawab Abu Nawas. “Mengapa?” kata orang ketiga.

“Sebab pengampunan Allah kepada hamba-Nya sebanding dengan besarnya dosa hamba itu,” jelas Abu Nawas.

Kemudian ketiga orang itu pulang dengan perasaan puas. Namun ada murid yang sejak awal mendengar tanya jawab Abu Nawas dan ketiga tamunya itu. Kerena belum mengerti ia pun bertanya kepada Abu Nawas.

“Mengapa dengan pertanyaan yang sama bisa menghasilkan jawaban yang berbeda?” tanya si murid.

Lalu Abu Nawas menjawab dengan bijak. “Manusia dibagi menjadi tiga tingkatan. Tingkatan mata, tingkatan otak, dan tingkatan hati.”

Kemudian Abu Nawas menjelaskan ketiga tingkatan itu. Ada anak kecil yang melihat bintang di langit. Kata Abu Nawas, bintang itu kecil karena ia hanya menggunakan mata. Demikianlah tingkatan mata.

Berbeda dari orang pandai yang melihat bintang di langit. Ia mengatakan bintang itu besar karena ia berpengetahuan. Inilah tingkatan otak.

“Lalu apakah tingkatan hati itu?” si murid bertanya tak sabar.

Abu Nawas mengatakan: Ialah orang pandai dan mengerti yang melihat bintang di langit. Ia tetap mengatakan bintang itu kecil walaupun ia tahu bintang itu besar.

Karena bagi orang yang mengerti tidak ada sesuatu apa pun yang besar jika dibandingkan dengan ke-Maha-Besaran Allah.

Si murid mulai mengarti maksud dari Abu Nawas.

“Wahai guru, mungkinkah manusia bisa menipu Tuhan?” si murid bertanya lagi. “Mungkin,” jawab Abu Nawas.

“Bagaimana caranya?” “Dengan merayu-Nya melalui pujian dan doa,” jelas Abu Nawas.

“Ajarkanlah doa itu padaku wahai guru.” Lalu doa Abu Nawas yang dikenal dengan syair i’tiraf itu dibacakan dan dikenal sampai sekarang. Doa dari seorang pujangga Arab dan penyair terbesar sastra Arab klasik, Abu Nawas.

Abu  Nawas memiliki nama lengkap Abu Ali Al Hasan bin Hani Al Hakami. Penyair ulung sekaligus tokoh sufi itu hidup pada zaman Khalifah Harun Al-Rasyid di Baghdad pada tahun 806-814 Masehi.

Berikut doa beliau:

Ilaahii lastu lil firdausi ahlaan wa laa aqwaa ‘alaa naaril jahiimi

Wahai Tuhanku ! Aku bukanlah ahli surga, tapi aku tidak kuat dalam neraka Jahim

Fa hablii taubatan waghfir zunuubii fa innaka ghaafirudzdzambil ‘azhiimi

Maka berilah aku taubat (ampunan) dan ampunilah dosaku, sesungguhnya engkau Maha Pengampun dosa yang besar

Dzunuubii mitslu a’daadir rimaali fa hablii taubatan yaa dzaaljalaali

Dosaku bagaikan bilangan pasir, maka berilah aku taubat wahai Tuhanku yang memiliki keagungan

Wa ‘umrii naaqishun fii kulli yaumi wa dzambii zaa-idun kaifah timaali

Umurku ini setiap hari berkurang, sedang dosaku selalu bertambah, bagaimana aku menanggungnya

Ilaahii ‘abdukal ‘aashii ataaka muqirran bidzdzunuubi wa qad da’aaka

Wahai, Tuhanku ! Hamba Mu yang berbuat dosa telah datang kepada Mu dengan mengakui segala dosa, dan telah memohon kepada Mu

Fa in taghfir fa anta lidzaaka ahlun wa in tathrud faman narjuu siwaaka

Maka jika engkau mengampuni, maka Engkaulah yang berhak mengampuni. Jika Engkau menolak, kepada siapakah lagi aku mengharap selain kepada Engkau?

Jadi, siapa yang masih merasa bersih dari dosa dan tidak malu dengan doa Abu Nawas ini? Doa yang penuh kerendahan hati menyindir kita semua untuk harus selalu menjadi orang yang lebih baik. Karena memang manusia tak lepas dari alpa dan dosa.

Mari selipkan istighfar di hati kita setiap hari, setiap detik bahkan, untuk meminta ampunan. Karena senyata-nyatanya kita tak pantas jadi penghuni surga, tapi tak akan kuat masuk dalam neraka.

Di tulisan ini juga ada baiknya dijabarkan terkait keutamaan berdoa. Kabul tidaknya doa hanya Allah yang tahu. Meski demikian, para ulama merumuskan beberapa rahasia doa akan dikabulkan. Paling tidak ada tujuh rahasia yang dalilnya dirujuk dari alquran dan hadis.

Pertama, doa di waktu yang mustajab. Antara lain, hari Arafah, Ramadhan, dan sepertiga malam terakhir. Kedua, doa mustajab ketika perang, turun hujan, ketika sujud, serta antara adzan dan ibadah.

Ketiga,  doa menghadap kiblat dan mengangkat tangan. Keempat, berdoa dengan khusuk, rendah hati, dan penuh harap kepada Allah.

Kelima, berdoa dengan suara lirih, tidak teriak-teriak. Keenam, doa hendaknya memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi. Terakhir ketujuh, harus yakin kalau doa pasti terkabul, jangan pesimis. Wallahualam.

*) Penulis adalah pembimbing PP Darussalam Bantarwaru Majalengka. Saat ini tinggal di Bambu Apus, Pamulang dan aktif mengajar serta memberi bimbingan keagamaan.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *